Era AI Mengubah Dunia Kerja, Sidoarjo Dorong Lulusan Kuasai Hard Skill dan Soft Skill
Sidoarjo, SadhapNews.com – Lulusan sekolah dan perguruan tinggi di Kabupaten Sidoarjo didorong tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis, kemampuan beradaptasi, serta pengalaman kerja yang sesuai kebutuhan industri.
Perubahan teknologi, otomatisasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat dunia pendidikan dituntut semakin dekat dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Kesiapan lulusan pun menjadi salah satu pekerjaan penting agar mereka mampu bersaing di tengah perubahan pasar kerja yang berlangsung cepat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sidoarjo, Netty Lastiningsih, mengatakan kemampuan akademik harus berjalan beriringan dengan keterampilan nonteknis yang dibutuhkan dunia kerja.
“Lulusan tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka juga harus memiliki kemampuan komunikasi, bekerja dalam tim, disiplin, bertanggung jawab, mampu memecahkan masalah, serta memiliki kemauan untuk terus belajar,” ujar Netty. Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, dunia pendidikan sebenarnya telah memiliki ruang untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan industri. Kurikulum dapat diarahkan pada capaian kompetensi, penguatan profil lulusan, serta muatan lokal yang disesuaikan dengan potensi daerah dan kebutuhan dunia kerja.
Namun, Netty menegaskan hubungan antara lembaga pendidikan dan industri tidak boleh berhenti pada seremoni penandatanganan nota kesepahaman atau MoU.
“Link and match harus diwujudkan melalui langkah konkret. Misalnya penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri dan pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik,” jelasnya.
Ia menilai kemampuan soft skills menjadi salah satu aspek yang perlu terus diperkuat. Etos kerja, ketekunan, komunikasi efektif, manajemen waktu hingga kemampuan mengambil keputusan dalam menghadapi persoalan nyata merupakan kompetensi yang semakin dibutuhkan perusahaan.
“Yang tidak kalah penting adalah kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar. Belajar tidak berhenti setelah seseorang lulus dari sekolah atau perguruan tinggi,” ungkap Netty.
Netty menilai perusahaan dan dunia industri harus dilibatkan sejak proses pendidikan. Industri tidak hanya berperan sebagai pengguna tenaga kerja, tetapi juga dapat menjadi mitra dalam membentuk kompetensi calon tenaga kerja.
Salah satunya melalui program praktik kerja lapangan (PKL) dan magang yang berkualitas. Peserta didik diharapkan tidak sekadar ditempatkan di perusahaan, tetapi mendapatkan pendampingan dan pengalaman yang benar-benar relevan dengan bidang pekerjaan.
“Industri merupakan mitra strategis. Karena itu, akses PKL dan magang harus benar-benar memberikan pengalaman kerja yang nyata, bukan sekadar menempatkan siswa atau mahasiswa di perusahaan,” katanya.
Selain pengalaman kerja, keterlibatan industri juga dapat dilakukan melalui transfer teknologi, penyediaan fasilitas serta pemberian masukan terhadap standar kompetensi lulusan.
Dengan demikian, guru, siswa maupun mahasiswa dapat mengenal perangkat dan sistem kerja yang digunakan industri sekaligus memahami standar yang berlaku di lapangan.
Pendidikan, lanjut Netty, juga tidak perlu mempertentangkan prestasi akademik dengan keterampilan praktis. Keduanya justru harus diperkuat secara bersamaan.
“Pendidikan harus memberikan keseimbangan antara kemampuan akademik dan keterampilan praktis. Keduanya tidak dapat dipertentangkan karena keterampilan praktis juga membutuhkan dukungan akademik yang matang,” tegasnya.
Program magang, kewirausahaan, praktik riil dan pembelajaran berbasis proyek dinilai dapat menjadi jembatan bagi peserta didik sebelum memasuki dunia profesional.
“Magang menjadi transisi dari dunia akademik menuju dunia profesional. Dari sana peserta didik bisa mengenal secara langsung bagaimana budaya kerja, etika profesional dan tuntutan target yang sebenarnya,” ujarnya.
Perkembangan otomatisasi dan AI juga menjadi tantangan baru. Lembaga pendidikan dituntut menyiapkan lulusan agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi memiliki kemampuan yang sulit digantikan mesin.
Karena itu, literasi digital dan teknologi, kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS), kreativitas, komunikasi, kolaborasi serta kemampuan memecahkan masalah menjadi semakin penting.
Untuk mempersempit kesenjangan antara lulusan dan kebutuhan pasar kerja, Netty menilai diperlukan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator, sedangkan sekolah dan perguruan tinggi harus semakin fleksibel dalam merespons perubahan kebutuhan industri.
Di sisi lain, industri juga perlu lebih terbuka untuk terlibat sejak penyusunan kurikulum, pemberian pengalaman kerja, penguatan kompetensi hingga penyerapan lulusan.
“Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, kampus dan industri menjadi kunci. Dengan kerja sama yang konkret, lulusan tidak hanya disiapkan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga mampu bertahan, berkembang dan menciptakan peluang di tengah perubahan dunia kerja,” pungkas Netty.
Upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia juga dilakukan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui kerja sama dengan Perkumpulan Purnabakti Kepala Desa dan Lurah Seluruh Indonesia (Perpukadesi).
Kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan pada sektor pendidikan, tetapi juga membuka akses kerja bagi masyarakat, termasuk peluang penempatan tenaga kerja ke Jepang.
Bupati Sidoarjo Subandi mengatakan kerja sama tersebut diharapkan menghasilkan program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, mulai dari pembangunan sarana pendidikan, penempatan tenaga kerja hingga pemberdayaan masyarakat.
“Yang kami dorong adalah kerja sama yang benar-benar menghasilkan manfaat. Pendidikan diperkuat, peluang kerja dibuka, dan masyarakat diberikan ruang untuk meningkatkan kesejahteraannya,” ujar Subandi.
Di sektor pendidikan, dukungan Perpukadesi diarahkan untuk revitalisasi 21 ruang kelas. Sebanyak 10 ruang kelas baru ditargetkan dibangun pada 2026, sedangkan 11 ruang kelas lainnya direncanakan pada 2027.
Sementara di sektor ketenagakerjaan, sebanyak 50 calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sidoarjo akan difasilitasi untuk bekerja di Jepang melalui mekanisme penempatan resmi dan terstruktur.
Subandi menilai kesempatan bekerja di luar negeri harus dimanfaatkan dengan persiapan yang matang. Calon tenaga kerja harus memiliki kompetensi, kedisiplinan dan mental kerja yang sesuai dengan tuntutan pasar internasional.
“Jangan takut mencoba peluang baru. Yang terpenting, calon tenaga kerja harus mempersiapkan kemampuan, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar agar mampu bersaing,” katanya.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Sidoarjo Dwi Eko Saptono mengatakan fasilitasi penempatan 50 calon PMI ke Jepang menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja daerah.
Menurutnya, keinginan bekerja di luar negeri harus dibarengi kesiapan administrasi, keterampilan dan kemampuan beradaptasi dengan budaya kerja internasional.
“Calon PMI harus benar-benar siap sebelum berangkat. Kami dampingi dari proses administrasi, pembekalan dan pelatihan sampai memastikan keterampilan mereka sesuai dengan kebutuhan pekerjaan,” jelas Dwi Eko.
Kerja sama dengan Perpukadesi juga mencakup sektor lain, seperti pertanian dan peternakan. Dukungan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus membuka lebih banyak peluang ekonomi.
Pemkab Sidoarjo berharap kolaborasi pendidikan, ketenagakerjaan dan dunia industri tersebut menjadi strategi jangka panjang untuk memperkuat kualitas SDM.
Dengan pendidikan yang semakin adaptif, pengalaman kerja yang lebih kuat dan akses pekerjaan yang lebih luas, lulusan Sidoarjo diharapkan tidak hanya siap memasuki pasar kerja, tetapi juga mampu berkembang dan menciptakan peluang di tengah persaingan global. (Adv/trs)
