Deteksi Infeksi Lebih Cepat, RSUD Jombang Kenalkan Laboratorium Mikrobiologi Berteknologi Canggih
JOMBANG, SadhapNews.com - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Jombang terus mengembangkan layanan kesehatan untuk mempercepat proses diagnosis penyakit infeksi. Salah satunya melalui layanan laboratorium mikrobiologi yang dilengkapi peralatan berteknologi canggih untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab infeksi secara lebih cepat dan akurat.
Layanan tersebut menjadi salah satu fasilitas yang dikenalkan RSUD Jombang kepada masyarakat melalui program RSUD Jombang Menyapa. Dalam program tersebut, Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik RSUD Jombang, dr. Merry Puspita, M.Ked.Klin., Sp.MK, menjelaskan pentingnya pemeriksaan mikrobiologi dalam menentukan penyebab infeksi sekaligus memilih terapi yang tepat bagi pasien.
Menurut dr. Merry, laboratorium mikrobiologi memiliki peran penting dalam mengidentifikasi berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Mulai dari bakteri, jamur hingga virus dapat diperiksa melalui sejumlah metode pemeriksaan sesuai dengan kondisi dan sumber infeksi pasien.
"Setelah diketahui agen infeksinya, lanjut kemudian kita cari antimikroba-nya yang paling tepat. Bahkan kita sudah punya alat canggih yang mampu untuk mendeteksi dan mengidentifikasi mikroba seperti di kota-kota besar," kata dr. Merry dalam penjelasannya.
Salah satu teknologi tersebut, lanjut dia, dapat dimanfaatkan untuk membantu pemeriksaan penyakit yang masih banyak ditemukan di masyarakat, termasuk tuberkulosis (TBC). Dengan dukungan peralatan tersebut, proses pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat.
Untuk pemeriksaan tertentu terkait TBC, hasil laboratorium diperkirakan dapat diketahui dalam waktu sekitar empat jam. "Jadi tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan hasil pemeriksaan. Ini tentu sangat membantu dokter dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya," jelasnya.
Di sisi lain, dr. Merry mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan antibiotik. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam dunia kesehatan adalah resistensi antimikroba, yakni kondisi ketika mikroorganisme tidak lagi mempan terhadap obat yang sebelumnya efektif untuk mengatasinya.
Kebiasaan membeli sendiri di apotek atau menghentikan konsumsi antibiotik ketika kondisi tubuh mulai membaik, menurut dia, dapat menjadi salah satu persoalan apabila obat tersebut memang diresepkan untuk dihabiskan sesuai petunjuk dokter.
"Terkadang sebagian pasien ada yang tidak mengonsumsi obat sampai habis ketika sudah dirasa enakan. Padahal saat itu belum sembuh total," ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta mengikuti aturan penggunaan obat yang diberikan tenaga medis. Termasuk tidak membeli atau mengonsumsi antibiotik berdasarkan perkiraan sendiri tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
"Penggunaan obat harus sesuai dengan anjuran dokter dan jangan pernah membeli obat sesuai keyakinan sendiri tanpa konsultasi," tegasnya.
Menurut dr. Merry, persoalan resistensi antibiotik tidak hanya berdampak pada individu yang mengonsumsi obat secara tidak tepat. Bakteri yang telah kebal juga berpotensi menyebar dan menjadi persoalan bagi lingkungan maupun orang lain, terutama mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah.
"Bakteri ini pun juga bisa mencemari lingkungan, seperti tanah, air dan udara. Karena bakteri ini bisa bertahan beberapa hari di dunia luar," bebernya.
Lanjut Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) tersebut menjelaskan, munculnya kuman yang kebal terhadap antibiotik tidak semata-mata disebabkan penggunaan antibiotik pada manusia. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di sektor lain, seperti pertanian dan perikanan, juga dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya resistensi.
"Karena pada dasarnya
bakteri pasti ada di seluruh makhluk hidup dan lingkungan, atau biasa disebut sebagai flora normal," ungkapnya.
Untuk mencegah infeksi sekaligus menekan risiko resistensi antibiotik, masyarakat juga perlu memperkuat daya tahan tubuh dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
"Semua penyakit infeksi bisa dilawan oleh sistem imun yang kuat. Tetapi itu tidak didapatkan secara instan dan cuma-cuma," katanya.
Ia menyebut pola hidup sehat harus dilakukan secara konsisten. Di antaranya dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, menjaga pola istirahat, mengatur keseimbangan antara aktivitas dan pekerjaan, serta menjaga kondisi pikiran tetap positif.
Dr. Merry juga menjelaskan pentingnya pemeriksaan mikrobiologi pada pasien yang mengalami infeksi berkepanjangan atau tidak kunjung membaik. Dalam kondisi tersebut, dokter perlu mencari tahu agen infeksi yang menjadi penyebab penyakit.
Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah kultur, yakni pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi dan mengidentifikasi mikroorganisme tertentu, terutama bakteri atau jamur. Sampel yang diperiksa disesuaikan dengan lokasi atau sumber infeksi pasien.
"Jika pasien batuk lama tidak sembuh-sembuh, kita ambil dahaknya untuk dilakukan pemeriksaan kultur. Jika ada luka yang tidak sembuh-sembuh akan diambil sampel nanah atau usap dasar luka dari area lukanya," jelasnya.
Begitu pula pada pasien yang mengalami demam berkepanjangan, sampel darah dapat diperiksa. Sementara pasien dengan dugaan infeksi saluran kemih dapat menjalani pemeriksaan menggunakan sampel urine.
"Jadi sampelnya bisa apa saja, tergantung dari sumber infeksinya," imbuhnya.
Dari pemeriksaan tersebut, dokter dapat memperoleh informasi mengenai mikroorganisme penyebab infeksi. Hasil itu kemudian menjadi salah satu dasar untuk menentukan terapi yang paling sesuai, termasuk jenis antibiotik yang tepat apabila memang diperlukan.
Karena itu, menurut dr. Merry, pemeriksaan laboratorium mikrobiologi bukan sekadar mencari tahu penyakit yang diderita pasien. Pemeriksaan tersebut juga menjadi bagian penting dalam memastikan pasien mendapatkan pengobatan yang tepat sasaran.
"Mari mencegah bakteri kebal antibiotik demi menjaga kesehatan diri sendiri dan lingkungan," ajaknya.
Ia menambahkan, keberadaan laboratorium mikrobiologi dengan peralatan yang semakin canggih di RSUD Jombang diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan layanan diagnosis infeksi yang lebih cepat dan akurat.
"Bahkan kami di RSUD Jombang ini sudah memiliki alat yang advance dan canggih, mampu mengidentifikasi dan mendeteksi virus dengan maksimal serta waktu yang cepat. Jika kita semua sehat maka kita akan merasakan tenang dan bahagia," pungkas dr. Merry.
dr. Ahmad Mahfur menjelaskan bahwa ASI eksklusif tetap sangat dianjurkan hingga usia enam bulan. Namun setelah memasuki usia enam bulan, kebutuhan zat besi anak harus mulai dipenuhi melalui MPASI yang kaya zat besi.
“Cukup ASI itu sampai usia enam bulan. Begitu dia menginjak enam bulan, waktunya MPASI. Kadar besi di dalam ASI itu sudah turun banyak, sehingga pada saat itulah anak sudah harus memenuhi kebutuhan besinya lewat MPASI,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya pemberian makanan yang kaya akan zat besi, makanan-makanan yang tinggi zat besi yaitu protein yang berbasis hewani.
“Ketika anak itu tidak memenuhi kebutuhan MPASI yang kaya akan zat besi, dia akan cepat kena anemia defisiens besi." imbuhnya.
Selain itu, anak dengan penyakit kronis juga memiliki risiko lebih tinggi, misalnya anak dengan infeksi kronis seperti tuberkulosis (TBC) maupun gangguan pencernaan yang menyebabkan malabsorpsi atau terganggunya penyerapan nutrisi.
Untuk mencegah anemia defisiensi besi, orang tua dianjurkan memberikan makanan yang mengandung zat besi, terutama protein hewani seperti daging, ayam, telur dan ikan.
Selain pemenuhan nutrisi, pemberian suplementasi zat besi pada anak sesuai anjuran tenaga kesehatan juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan, terutama pada anak yang memiliki faktor risiko.
dr. Ahmad Mahfur juga menganjurkan orang tua melakukan skrining pada usia sekitar sembilan bulan hingga satu tahun serta rutin memantau tumbuh kembang anak melalui posyandu.
Pemantauan tersebut meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar kepala serta perkembangan anak.
“Yang pertama orang tua harus memberikan makanan pada anaknya, makanan yang tinggi zat besi, yaitu makanan yang banyak mengandung protein hewani seperti daging, ayam, telur dan ikan. Yang kedua, anak-anak yang berusia di atas empat bulan, terutama yang berisiko, sudah mendapatkan suplementasi zat besi. Yang ketiga skrining, sebisa mungkin orang tua bisa membawa anaknya untuk skrining usia sembilan bulan. Yang keempat rutin memeriksakan pertumbuhan dan perkembangan anak di posyandu,” paparnya.
Seiring meningkatnya perhatian terhadap berbagai persoalan tumbuh kembang anak, RSUD Jombang juga terus mengembangkan pelayanan tumbuh kembang secara terintegrasi.
Pelayanan tersebut melibatkan berbagai tenaga profesional, mulai dari dokter spesialis anak, dokter rehabilitasi medik, psikolog, dokter ahli jiwa atau psikiater, hingga ahli gizi yang berkolaborasi dalam memberikan intervensi dan tata laksana sesuai kebutuhan anak.
“Kita sudah mulai poli tumbuh kembang secara terintegrasi. Saat ini sudah berjalan cukup bagus dan melayani masalah-masalah tumbuh kembang yang semakin banyak pasiennya. Ada dokter spesialis anak, dokter rehab medik, psikolog, dokter ahli jiwa atau psikiatri, ada ahli gizi. Kita berkolaborasi secara bersama-sama, harapannya output dan hasilnya bagus,” ungkapnya.
Ia menambahkan, melalui intervensi dan tata laksana yang sesuai, banyak pasien dengan masalah tumbuh kembang dapat menunjukkan hasil yang baik.
Menutup keterangannya, dr. Ahmad Mahfur mengingatkan para orang tua agar tidak menunggu sampai anak menunjukkan gejala anemia. Pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk melindungi tumbuh kembang anak.
“Khusus untuk anak yang anemia defisiensi besi, saya mengingatkan kepada orang tua bahwa mencegah jauh lebih penting daripada anak itu sudah mengalami anemia defisiensi besi, karena anak-anak yang kekurangan zat besi itu kebanyakan tidak bergejala,” tandasnya.
Ia mengajak para orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter apabila memiliki kekhawatiran mengenai kondisi anak, melakukan skrining sesuai anjuran, serta rutin membawa anak ke posyandu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangannya.
Dengan deteksi dan penanganan sedini mungkin, diharapkan kekurangan zat besi dan anemia pada anak dapat dicegah sehingga tumbuh kembang, kemampuan belajar, serta masa depan anak dapat berlangsung secara optimal. (Ho)
